Belakangan ini, tren kukusan atau makanan yang dikukus sedang digandrungi raja mahjong alternatif banyak orang. Dari nasi kukus, sayuran kukus, hingga camilan sehat seperti bakpao atau pudding, semua tampak lebih menarik karena diklaim lebih sehat. Namun, apakah tren ini benar-benar menyehatkan, atau hanya sekadar gaya hidup kekinian? Mari kita telusuri lebih dalam.
Mengapa Makanan Dikukus Menjadi Populer?
Salah satu alasan utama kukusan menjadi populer adalah karena metode slot murah memasaknya yang minim minyak. Dibandingkan digoreng, makanan yang dikukus cenderung lebih rendah kalori dan lemak. Hal ini membuat kukusan cocok untuk mereka yang ingin menjaga berat badan atau menerapkan pola makan lebih sehat.
Selain itu, proses mengukus juga relatif cepat dan mudah. Banyak orang menyukai kemudahan ini, apalagi di tengah kesibukan sehari-hari. Tanpa perlu banyak bumbu atau minyak, makanan tetap memiliki rasa alami dan tekstur yang lembut.
Apakah Kukusan Lebih Bergizi?
Kelebihan utama kukusan adalah kemampuannya mempertahankan nutrisi. Sayuran, misalnya, biasanya kehilangan vitamin dan mineral ketika direbus terlalu lama. Dengan mengukus, vitamin seperti C dan B kompleks tetap terjaga lebih baik. Bahkan beberapa penelitian menunjukkan bahwa protein dalam telur atau daging juga lebih stabil ketika dikukus dibanding digoreng.
Namun, perlu diingat bahwa tidak semua makanan menjadi lebih sehat hanya karena dikukus. Misalnya, makanan tinggi gula atau tepung yang dikukus, seperti bolu atau kue, tetap mengandung kalori tinggi meski teksturnya lembut. Jadi, metode kukus bukanlah jaminan penuh untuk makanan sehat.
Kukusan dan Dampaknya pada Kesehatan
Makanan yang dikukus sering dianggap lebih ramah pencernaan. Teksturnya yang lembut memudahkan sistem pencernaan bekerja tanpa terlalu banyak energi. Orang-orang dengan masalah lambung atau gangguan pencernaan biasanya dianjurkan untuk mengonsumsi makanan kukus karena lebih mudah dicerna.
Selain itu, kukusan juga membantu mengurangi konsumsi minyak berlebih. Minyak jenuh yang berlebihan dapat meningkatkan risiko penyakit jantung. Dengan mengukus, kita bisa menikmati makanan tanpa harus khawatir kalori dan lemak berlebih masuk ke tubuh.
Tips Memasak Kukusan yang Sehat dan Lezat
Gunakan bahan segar – Sayuran atau daging segar menjaga rasa dan nutrisi.
Jangan terlalu lama mengukus – Overcooking bisa merusak vitamin penting.
Tambahkan bumbu alami – Seperti bawang, jahe, atau rempah untuk rasa tanpa tambahan MSG.
Kombinasikan makanan – Sayur, protein, dan karbohidrat kukus untuk gizi seimbang.
Kesimpulan: Kukusan, Tren atau Pilihan Sehat?
Tren kukusan memang menawarkan keuntungan nyata: rendah lemak, mudah dicerna, dan mampu mempertahankan nutrisi. Namun, kesehatan tetap tergantung pada bahan dan cara pengolahan. Makanan sehat tidak hanya soal dikukus, tetapi juga memilih bahan berkualitas dan mengatur porsi. Jadi, kukusan bukan sekadar tren, tapi bisa menjadi pilihan hidup sehat jika dipraktikkan dengan bijak.